Just another WordPress.com weblog

Anak saya yang pertama berusia 5 tahun sudah tiga kali merasakan camping.  Sedangkan anak saya yang kedua berusia 1.5 tahun sudah sekali merasakan glamping pada usia enam bulan dan sekali camping tenda. Waktu hamil anak kedua saya juga tetap camping.

Kenapa kami suka camping? Dengan camping melewatkan sore, malam dan pagi di alam terbuka saya dan anak bisa melihat bergantinya matahari terang menjadi senja dan malam gelap yang berhias bulan dan bintang, melihat pepohonan pinus cantik digunung dan suara suara hewan malam membuat kami bisa mengagumi ciptaan Sang Maha Pencipta dengan lebih khusyuk. Disela-sela camping anak-anak biasanya akan bertanya ini suara binatang  apa? bentuk bintang disini mirip ini, bulanya bulat. Ini bisa jadi teachable moment yang bagus untuk belajar soal astronomi. Apalagi jika orang tua sudah persiapan “materi”  pengetahuan umum  untuk menjawab soal pertanyaan anak ini itu bisa jadi momen belajar sekaligus momen kedekatan.

Menu kedekatan ini bisa disesuaikan dengan usia dan kultur keluarga menurut saya. Tenda sebelah saya pada camping terakhir yang berputra remaja memilih menghabiskan waktu dengan bernyayi dengan gitar, bermain board game (permainan papan seperti monopoli), dan bercerita ini itu antara orang tua dan anak. Bicara soal momen kedekatan belakangan juga penting  diperjuangkan ditengah kikisan konstan sosial media dan gadget dalam keluarga yang bisa membuat komunikasi antar anak-orang tua menjadi dangkal. Ketika camping space tenda hanya kecil sering mengharuskan berbagi tenda, tenda satu dan satunya berdekatan , jadi momen kedekatan semakin besar.  Apalagi jika semua sepakat untuk mematikan gadget hasilnya semakin fokus dengan orang-orang terdekat.

Camping juga bisa menjadi alternatif rehat gadget yang semakin lekat dengankehidupan sekarang.  Camping digunung  sering susah signal dan lebih sulit mendapatkan listrik untuk menngisi batrai gadget sehingga lebih mudah untuk rehat gadget atau puasa sosmed. Momen langka kan saat ini?

Selanjutnya, jika  camping digunung maka kita akan merasakan perubahan suhu yang cukup drastis pada siang dan malam. Malam dini hari biasanya menjadi titik terdingin ketika camping digunung.  Wah, gak asik dong kedinginan! Siapa bilang dingin itu juga asik.. jarang-jarang kita kedinginan sejuk seperti digunung jika kita tinggal di dataran rendah. Terkadang  perlu juga melatih diri dan fisik dengan perubahan yang agak ekstrim untuk melatih fisik agar lebih kuat pun begitu pula dengan anak-anak. Tapi jangan lupa tetap safety perlu yaa.. tidak lupa siapkan matras tidur dan sleeping bag yang mumpuni untuk anak-anak dan orang tua tentu saja, biar camping tetap enjoy dan  tidak ada yang jatuh sakit.

Pagi hari saat camping bisa diisi jalan-jalan di daerah sekitar tempat camping. Ini juga bisa menjadi momen melatih fisik keluarga sekaligus melihat alam sekitar. Lokasi camping keluarga milik perhutani yang saya sering  kunjungi di Sekipan  Tawang Mangu kebetulan memiliki sungai kecil, banyak pohon pinus  dan pohon lain seperti apukat , serta  kebun stroberi milik warga. Anak pertama saya suka main di aliran sungai kecil yang airnya jernih itu, biar dingin tetap tidak gentar. Sewaktu bermain disungai kecil itu muncul pertanyaan dari anak saya kok tidak ada ikan di aliran sungai ini? sewaktu kami naik ketas  area perkemahan  ke telaga kecil buatan kami juga tidak menemui ikan jadi sementara kesimpulan anak adalah tidak ada ikan di sungai gunung karena dingin (hehehe). Tentu saja ini perlu saya dan ana kroscek lagi. Kesimpulanya jalan jalan disekitar area camping bisa jadi kesempatan bagus belajar biologi sekaligus refreshing dari alam langsung.

Alasan terakhir adalah camping itu wisata yang relatif hemat dan ramah lingkungan. Camping regular bukan glamping ya relative hemat karena tidak semahal menginap di vila atau dihotel.  Di sekipan satu orang dewasa hanya membayar 10 ribu rupiah saja. Kebetulan untuk peralatan camping kami sudah punya sendiri. Jika mau menyewa tenda juga pihak bumi perkemahan juga menyediakan. Untuk makan bisa bawa sendiri dan dimasak bersama bisa masak jangung bakar, mie rebus, makanan beku sesuai budget dan kebutuhan.

Camping ramah lingkungan? kok bisa? Begini,  sewaktu camping kita menggunakan lebih sedikit energi dengan tidak menyalakan lampu, tidak mencharge gadget, berpisah dengan tivi, kulkas dsb sehingga bisa dibilang lebih ramah lingkungan. Tentu saja, saat atau seusai camping kita tidak boleh nyampah sembarangan ya, simpan sampah  pisahkan organik, dan anorganik, lalu buang pada tempat semestinya. Serta jangan lupa pastikan api unggun kalian mati sempurna saat meninggalkan tempat berkemah. Jadi selamat mencoba yaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: