Just another WordPress.com weblog

Archive for August, 2019

CAMPING (Berkemah) : Alternatif Wisata Edukasi Keluarga Era Digital

Anak saya yang pertama berusia 5 tahun sudah tiga kali merasakan camping.  Sedangkan anak saya yang kedua berusia 1.5 tahun sudah sekali merasakan glamping pada usia enam bulan dan sekali camping tenda. Waktu hamil anak kedua saya juga tetap camping.

Kenapa kami suka camping? Dengan camping melewatkan sore, malam dan pagi di alam terbuka saya dan anak bisa melihat bergantinya matahari terang menjadi senja dan malam gelap yang berhias bulan dan bintang, melihat pepohonan pinus cantik digunung dan suara suara hewan malam membuat kami bisa mengagumi ciptaan Sang Maha Pencipta dengan lebih khusyuk. Disela-sela camping anak-anak biasanya akan bertanya ini suara binatang  apa? bentuk bintang disini mirip ini, bulanya bulat. Ini bisa jadi teachable moment yang bagus untuk belajar soal astronomi. Apalagi jika orang tua sudah persiapan “materi”  pengetahuan umum  untuk menjawab soal pertanyaan anak ini itu bisa jadi momen belajar sekaligus momen kedekatan.

Menu kedekatan ini bisa disesuaikan dengan usia dan kultur keluarga menurut saya. Tenda sebelah saya pada camping terakhir yang berputra remaja memilih menghabiskan waktu dengan bernyayi dengan gitar, bermain board game (permainan papan seperti monopoli), dan bercerita ini itu antara orang tua dan anak. Bicara soal momen kedekatan belakangan juga penting  diperjuangkan ditengah kikisan konstan sosial media dan gadget dalam keluarga yang bisa membuat komunikasi antar anak-orang tua menjadi dangkal. Ketika camping space tenda hanya kecil sering mengharuskan berbagi tenda, tenda satu dan satunya berdekatan , jadi momen kedekatan semakin besar.  Apalagi jika semua sepakat untuk mematikan gadget hasilnya semakin fokus dengan orang-orang terdekat.

Camping juga bisa menjadi alternatif rehat gadget yang semakin lekat dengankehidupan sekarang.  Camping digunung  sering susah signal dan lebih sulit mendapatkan listrik untuk menngisi batrai gadget sehingga lebih mudah untuk rehat gadget atau puasa sosmed. Momen langka kan saat ini?

Selanjutnya, jika  camping digunung maka kita akan merasakan perubahan suhu yang cukup drastis pada siang dan malam. Malam dini hari biasanya menjadi titik terdingin ketika camping digunung.  Wah, gak asik dong kedinginan! Siapa bilang dingin itu juga asik.. jarang-jarang kita kedinginan sejuk seperti digunung jika kita tinggal di dataran rendah. Terkadang  perlu juga melatih diri dan fisik dengan perubahan yang agak ekstrim untuk melatih fisik agar lebih kuat pun begitu pula dengan anak-anak. Tapi jangan lupa tetap safety perlu yaa.. tidak lupa siapkan matras tidur dan sleeping bag yang mumpuni untuk anak-anak dan orang tua tentu saja, biar camping tetap enjoy dan  tidak ada yang jatuh sakit.

Pagi hari saat camping bisa diisi jalan-jalan di daerah sekitar tempat camping. Ini juga bisa menjadi momen melatih fisik keluarga sekaligus melihat alam sekitar. Lokasi camping keluarga milik perhutani yang saya sering  kunjungi di Sekipan  Tawang Mangu kebetulan memiliki sungai kecil, banyak pohon pinus  dan pohon lain seperti apukat , serta  kebun stroberi milik warga. Anak pertama saya suka main di aliran sungai kecil yang airnya jernih itu, biar dingin tetap tidak gentar. Sewaktu bermain disungai kecil itu muncul pertanyaan dari anak saya kok tidak ada ikan di aliran sungai ini? sewaktu kami naik ketas  area perkemahan  ke telaga kecil buatan kami juga tidak menemui ikan jadi sementara kesimpulan anak adalah tidak ada ikan di sungai gunung karena dingin (hehehe). Tentu saja ini perlu saya dan ana kroscek lagi. Kesimpulanya jalan jalan disekitar area camping bisa jadi kesempatan bagus belajar biologi sekaligus refreshing dari alam langsung.

Alasan terakhir adalah camping itu wisata yang relatif hemat dan ramah lingkungan. Camping regular bukan glamping ya relative hemat karena tidak semahal menginap di vila atau dihotel.  Di sekipan satu orang dewasa hanya membayar 10 ribu rupiah saja. Kebetulan untuk peralatan camping kami sudah punya sendiri. Jika mau menyewa tenda juga pihak bumi perkemahan juga menyediakan. Untuk makan bisa bawa sendiri dan dimasak bersama bisa masak jangung bakar, mie rebus, makanan beku sesuai budget dan kebutuhan.

Camping ramah lingkungan? kok bisa? Begini,  sewaktu camping kita menggunakan lebih sedikit energi dengan tidak menyalakan lampu, tidak mencharge gadget, berpisah dengan tivi, kulkas dsb sehingga bisa dibilang lebih ramah lingkungan. Tentu saja, saat atau seusai camping kita tidak boleh nyampah sembarangan ya, simpan sampah  pisahkan organik, dan anorganik, lalu buang pada tempat semestinya. Serta jangan lupa pastikan api unggun kalian mati sempurna saat meninggalkan tempat berkemah. Jadi selamat mencoba yaa.

Relasi Finansial Anak-Orang tua

Suatu saat saya dikirimi oleh teman kuliah saya tentang artikel berjudul Rich Weber ditulis oleh Dahlan Iskan pada kolom perespektif Koran Jawapos.  Lalu teman saya bertanya  apa yang saya tangkap setelah membaca tulisan itu. Lalu saya menjawab isu tulisan tersebut berisi isu finansial keluarga. Membandingan relasi finansial anak dan orang tua dari sudut pandang timur dan barat. waktu itu saya seketika menjawab tapi sebagai umat islam kita beda karena ada agama yang mengatur.

Tulisan tersebut memang disampaikan dengan sudut pandang  pak Dahlan Iskan tidak sedang mengeluarkan statement namun dengan cerita tentang seorang pensiunan yang bernama Rich Weber ,seorang warga Negara Amerika serikat, tentang bagaimana dia menyiapkan pensiunya, menghabiskan masa pensiunya, dan tentang bagimana orang Amerika mengatur masalah waris dan relasi finansial antara anak dan orang tua. Dalam artikel tersebut juga disinggung tentang bagaimana orang cina mengatur masalah finansial anak-orang tua.

Saya akan menceritakanya sedikit, ketika anak berusia 10 atau 11 tahun  orang Amerika menyampaikan pada anaknya bahwa mereka akan membiayai anaknya sampai pada tingkat college (D2) hal tersebut dapat disampaikan lebih dari sekali bisa sampai setahun tiga kali. Dengan itu anak akan tahu bahwa pada usia 20 anak harus berusaha mandiri, menghasilkan uang sendiri. Setelah itu orang tua akan menyiapkan pensiunnya supaya nanti ketika tua tidak merepotkan anak. Orang tua berhak menikmati waktunya jalan- jalan, menikmati ketenangan atau hal hal yang disukai.

Setelah usia 20 anak tidak bisa begitu mudahnya  meminta uang pada orang tua. Jika harus meminta bantuan itu dalam kondisi darurat dan sifatnya hutang misalnya ketika membeli rumah atau KPR dan uangnya kurang sedikit. Jika anak tidak mampu membayar utangnya akan dipotongkan dengan warisanya. Warisan adalah hak orang tua mutlak yang diatur dengan wasiat yang tidak dapat diganggu gugat. Hampir semua orang amerika meninggal meninggalkan wasiat dan tiap anak memiliki satu kopi. Jika suami meninggal maka warisan akan jatuh ketangan istri baru ketika istri meninggal maka warisan akan jatuh ketangan anak.

Sedangkan dalam budaya cina orang tua sibuk bekerja untuk membiayai anaknya dan sampai tua menyimpan kekayaan juga untuk anaknya. Namun,karena semua waktu dihabiskan untuk anaknya ketika tua muncul masalah oarang tua yang tidak terima karena anaknya tidak cukup berbakti dan disisi lain anak sudah merasa berbakti. Tentu saja tidak semuanya, pada artikel asli hal ini juga disebutkan.

Entah kenapa sebagai orang awam dengan latar belakang Jawa saya pikir isu  relasi finansial orang tua dan anak ini cukup sensitif. Karena hubungan orang tua dan anak yang teramat dekat. Selain itu orang Jawa cenderung tidak berbicara soal materi hal ini dapat dilihat dari soal mas kawin yang tidak punya patokan tertentu seperti di budaya Banjar atau Minang, budaya rewang orang hajatan, serta pada pekerjaan tertentu orang juga tidak mematok harga atau dalam bahasa jawa “sak pawehe”. Unsur ewuh pekewuh atau tenggang rasa dalam masyarakat Jawa juga kental yang terkadang menghambat urusan materi dibicarakan secara terbuka sehingga berpotensi menimbulkan ketidakjelasan. Diantara ketidak jelasan antara relasi finansial anak dan orang tua adalah anak yang terus menumpang pada orang tua sampai beristri dan beranak pinak, atau sebaliknya, serta masalah waris yang tidak jelas. Soal uang memang terkadang pelik meski uang tak dibawa mati. Saya pun mengerti mengapa tulisan ini ditulis dengan sudut pandang penulis diluar cerita karena soal keluarga cukup keluarga yang tau. Kesan menggurui pun dihindari karena tiap keluarga unik punya kasus dan karakteristik sendiri –sendiri.

Jika harus memilih hanya antara dua secara pribadi saya lebih setuju dengan cara barat karena lebih jelas antara pembagian porsi antara orang tua dan anak. Dalam Islam,  sepengetahuan saya apabila seorang meninggal soal waris diatur dengan lebih detail berapa bagian istri, berapa suami, berapa anak laki laki, berapa anak perempuan, anak kandung, atau anak tiri. Soal birrul walidain atau berbakti pada orang tua juga diatur dengan jelas. Birrul walidain berpahala sangat besar. Namun saya yang masih miskin ilmu ini belum mendengar bagaimana anak apabila sudah menikah kapan anak tersebut harus mandiri. Saya yakin banyak riwayat tentang ini yang saya belum tahu dan perlu dapat digali. Yang saya tahu adalah arrijallu qowamuna alla nissa, yang artinya laki-laki menjadi qowam atas perempuan. Qowam artinya mampu memimpin istrinya secara moril dan materil untuk mendekat kepada Allah SWT. Yang dapat diartikan bahwa laki lakilah yang bertanggung jawab atas istrinya dan bukan orang tuanya. Orang tua terutama laki-laki dapat membantu namun tidak seterusnya.  Dan beberapa wanita juga ada yang diberi kelebihan atas suaminya (namun tidsk boleh sombong ya.. karena sombong adalah dosa pertama).

Semoga Allah memudahkan kita dalam segala urusan amiiin ya Rabbal alamiin.