Just another WordPress.com weblog

Baru-baru ini salah satu kabupaten di Jawa Tenggah tempat saya tinggal baru saja melaksanakan pilkades serentak di lebih dari 200 desa yang ada didalamnya. Mengapa membahas pilkades menjadi menarik? Karena pilkades adalah demokrasi formal dalam level terkecil dari pilkades ini bisa diamati secara lebih dekat bagaimana karakter masyarakat kita dalam memilih pemimpin.

Setidaknya ada 8 desa dikecamatan tempat saya tinggal yang saya bisa amati pelaksanaan pilkadesnya. Lebih jauh lagi ada salah satu anggota keluarga yang mencalonkan sehingga memungkinkan pengamatan secara lebih dekat.

Dari kedelapan desa tersebut terdapat kasus politik uang yang dilakukan oleh semua atau sebagian calon kepala desa. Kasus pertama semua calon kepala desa menggunakan politik uang, kedua  sebagian menggunakan politik uang dan sebagian menolak.

Seharusnya ada kategori ketiga dimana keduanya tidak mau berpolitik uang, namun sayangnya  pada pilkades kali ini belum ditemukan. Hal ini sekaligus menunjukan pilkades masih lekat dengan kebiasaan politik amplop.

Calon kepala desa menggunakan uang untuk berbagai ke perluan saat pilkades pertama jelas untuk operasional diantaranya memasang alat peraga kampanye, konsumsi, serta transportasi. Kedua untuk menggerakan kader. Kader adalah tim sukses para calon kades yang berfungsi mengajak warga masyarakat untuk memilih kades tersebut baik dengan cara dialogis atau dengan amplop; jika calon kades menerapkan pendekatan politik uang.

Calon kades yang tidak menyebar amplop juga ada yang memiliki kader untuk mengajak warga secara dialogis untuk memilih calon kades tersebut. Kader biasanya akan mendapatkan uang transport secara berkala dari calon kades.

Ketiga uang digunakan untuk mengganti suara warga atau biasa kita sebut dengan beli suara. Amplop, biasa disebarkan pada malam hari tenang dimana seharusnya sudah tidak ada lagi aktivitas kampanye. Besaran amplop di daerah saya berkisar antara Rp. 30.000 sampai dengan Rp 200.000.

Bahkan untuk membuat kader calon kades lain membelot ada calon yang berani mengeluarkan angka jutaan. Besaran amplop untuk mengganti suara pun besarnya beragam bergantung pada kekuatan para calon kades. Jika keduanya sama kuat secara finansial dan dukungan warga biasanya besaranan amplop akan semakin tinggi. Singkat kata semua dimaterialisasi dengan uang.

Besaran amplop menjadi lebih kecil jika lawan bersih, menolak menggunakan cara politik uang sedang pihak satunya bersedia. Dari hasil pengamatan, dua calon kades dengan posisi sama yaitu keduanya  pendatang baru (bukan petahana), satu calon mau menggunakan politik uang dan lainya menolak, maka calon yang mau politik uang akan menang mudah.

Hal ini sungguh ironis masyarakat masih berfikir mana pemimpin yang memberi keutungan sesaat pada waktu singkat disitulah mereka menjatuhkan pilihan. Karakter seperti ini amat disayangkan karena dapat menyulitkan dan menyisihkan calon yang baik dan ingin bersih.

Masyarakat yang seperti ini perlu pendidikan politik sehinga mereka dapat berpikir untuk jangka panjang. Pilkades memang skala kecil tapi bagaimana jika hal tersebut dibawa ke skala yang lebih besar seperti pemilu legislatif? Tentu saja masyarakat akan dirugikan jika pemimpin yang kurang kredibel terpilih dan urusan kepemimpinan hanya akan menjadi deal deal materialis. Tentu kita tidak ingin hal tersebut terjadi bukan?

Saya percaya pendidikan dan literasi informasi bisa menjadi kunci dalam memerangi kebodohan politik semacam ini. Masyarakat perlu tahu siapa calonya, bagaimana track recordnya, bagaimana integritas dan etos mereka. Semakin cerdas masyarakat semakin mampu berpikir jangka panjang sehingga kepentingan mereka dimasa depan tidak dirugikan.

Semakin terdidik; masyarakat diharapkan punya idealisme terhadap pilihan mereka. Masyarakat juga perlu tegas untuk menolak politik uang atau mungkin masyarakat perlu politis menghadapi politik uang yaitu terima uangnya jangan pilih calonya.

Advertisements

A Home is where our heart is bounded. It is such a happiness for us to have a just fine home. For some people out there maybe they don’t know where they are from, or maybe they know it, but they can’t come back because of any circumstance.  So, let us be grateful by telling how our hometown or our village looks like.

I was born in a village so called as “Ngentak” the name sounds pretty funny right? As I know, the name is from a Javanese word of ngenthang- ngenthang which is a term to describe no tree  and hot. It is situated inside the Sangiran prehistoric site. Administratively it is under Gondangrejo subdistrict of Karanganyar regency.  Right now, I live within the same subdistric as the village where I was born, so I am the native of this area. I have been living in the village eversince.  Even though I have to commute to the city since high school, I don’t mind with that. Living in the village is more peaceful than living downtown. However, staying in the city is more profitable for economic reason.

My village is not so big. It has a pretty nice football field which is connected with rice field so in the late afternoon you can see the sunset clearly if the weather is nice. With clear sky you can see two mountains of Merapi and Merbabu in the morning or in the afternoon. The soil couture of my village is quiet plain but in the eastern side it is a bit aslant.

Most young people in my village work out of town. The soil in my village is not very fertile combined with expensive water irrigation make young generation less interested in farming. Only some youth living in the village, the others are older people as well as woman and children. Most of male youths lives in a bigger town lo live or study.

 

The closest prehistoric museum to my village is Dayu Cluster. This is one of four clusters of Sangiran Prehistoric  museum. It is located around 2 kilometers eastern to my village. The place exhibits the prehistoric soil layers of Sangiran area which was predicted to be 1500 million years old. The area was a prehistoric sea according to the scientist. Sangiran is the area where Megantropus is found. Megantropus is believed to be the missing link in the Charles Darwin Human Evolution theory.

The museum is quiet pictures because of its modern architecture besides the location is in the middle of the village. The museum, has modern audio visual and multimedia device for the visitors to enjoy as well. It also has pretty nice small park and kid’s playground. When we have free time my family and I sometimes go around the area then see the sunsets in the nearby bridge.

Little Time

Let’s say that you are now at your seventeen and eighteen, you are now big enough, you live comfortably, you haven’t got any unavoidable responsibility in life, and still have time to wander around to think about what you want to do in life.

In other place, there are some people who are at their thirties or forties. They are bounded already with responsibilities. Their productive time is consumed by domestic, family, and daily needs matter, while some of them maybe struggling financially. Believe me! They are jealous to be you now, more specifically they are jealous with the time you as the youth have. Some of them maybe wonder what I would be if I could come back to my youth time.  I could do this, I could take this. I would push myself harder but they know their time has passed. What they have now is the time left to maximize.

It is so sad to know that not so many young Indonesia people in their seventies, eighties or even nineties have plan for their life. However, they are going to face an issue to be financially independent soon after they graduate from their bachelor study. Financially independent sometimes is not enough to make a great life. They have to make their mark and to make a mark they need structured effort in a certain period of time. They have to endure but first of all they have to know what they want to achieve.

Youth is a very strategic time to collect and develop knowledge, why? Because you have time! In a mature age there are demands to finish a routine job as well as learning new things but with the help of knowledge you get while you are young it will be much easier.

With my time, I can only write until this because I am doing it while becoming a shop attendant for my own building materials shop and at the same time thinking of picking up my little son. But as seventies or eighties youth, you might be able to create better writings at any topic because you have more time to invest!

Jack Ma Said “when you are twenty find a good Bos/ Example so that you can learn from him/her. When you are 30, if you want to do a thing, just do it because you can still afford it with your time. When you are 40’s, it is better to do thing you are good at. When you are 60 you better stay at home with your grand children and do good thing for your reachable surroundings. It should be added then, before twenties learn as much as possible to make your way much easier. Don’t forget to enjoy and celebrate your learning because it is actually a privilege and happiness. 😉

 

By Ms. Fitri

Yang Tak Terkata

Saat tetes air tiada.

Saat tanah hitam mulai menganga.

Dari sisi yang berbeda.

Berdua, kita pandang cakrawala.

Sungguh begitu teriknya.

Waktu berlalu.

Maka keringlah hatiku dan hatimu.

Layaknya dua insan yang tak pernah bertemu.

Semua lenyap.

Tanpa pernah terjawab.

Judul ini mungkin terdengar sepele bagi bagi yang kurang faham tentang dunia keibuan. Saya jadi teringat sebuah buku bahasa itali yang pernah saya pelajari dulu sekali ketika masih single di bagian perkenalan ada satu karakter yang memper kenalkan diri “Io lavoro molto sono cassalingga” artinya saya bekerja banyak sekali saya adalah ibu rumah tangga.Waktu itu saya cukup kagum dengan kalimat itu karena saya cukup jarang melihat kalimat seperti itu dalam buku pelajaran bahasa indonesia.

Pekerjaan rumah tangga terutama bagi yang sudah berputera/putri memang tidak sedikit. Mulai dari pekerjaan domestik seputar dapur, higienitas rumah, pakaian sampai dengan urusan anak dan sekolah.

Bagi ibu pekerja penuh waktu hampir pasti akan menggunakan jasa day care atau pembantu rumah tangga, atau jika nenek bersedia dan dirumah pasti akan minta bantuanya paling tidak urusan mengurus si kecil.

Naluri keibuan dan keistrian memang membuat para istri dan ibu cenderung lebih memperhatikan anak-anak dan suami dari pada mereka sediri.

Namun bagaimana jika ibu ingin lebih berkembang secara kemampuan dan karir atau bahasa keren-nya adalah self development. Bagaimana self development tetap berjalan tapi anak tetap terurus.

Berikut ini adalah tips mengatur waktu bagi para ibu yang ingin berkembang  sebagai work at home mom atau casual worker (pekerja paruh waktu) yang saya himpun dari berbagai sumber.

1. Buat jadwal rutin
Jadwal menjadi penting untuk  menyelesaikan pekerjan yang punya batasan waktu misalnya jadwal anak berangkat sekolah, jadwal anak belajar, dan bermain. Jadwal menjadi penting agar ibu dapat menentukan saat apa dia bisa bekerja diluar waktu kritis tersebut.

2.  Buat skala prioritas
Jika ibu adalah pekerja profesi misalnya penerjemah, proofreader atau penulis lepas bisanya juga memiliki deadline. List pekerjaan kita. Prioritaskan pekerjaan dengan deadline lebih awal sehingga kita bisa mengurangi resiko terlewat deadline.

3.  Tentukan dan Perjuangkan waktu produktif.
Waktu produktif adalah waktu dalam sehari dimana kita merasa sangat prima sehingga biasanya pada waktu tersebut ide mengalir dengan lancar. Perjuangkan waktu ini. Untuk saya misalnya waktu emas adalah pagi hari namun waktu itu bertabrakan dengan anak sekolah oleh sebab itu berarti saya harus bangun lebih pagi atau harus mencicil pekerjaan domestik pagi pada malam sebelumnya atau hari sebelumnya sehingga pada pagi kegiatan menjadi lebih minim dan saya bisa lebih banyak bekerja atau belajar.

Jika waktu prima adalah dini hari atau malam hari pastikan kita bisa mencuri waktu istirahat pada siang harinya plus jangan lupa setel jam weker. 😉

4. Mulai lebih awal
Ini sebuah keharuasan bagi ibu- ibu. Saya ingat waktu studi S2 mulai lebih awal betul-betul penting kalo yang single bisa  menyelesaikan tugas dalam 3 hari berarti ibu-ibu harus start minimal seminggu sebelumnya karena dengan profesi tambahan ibu akan banyak selingan-selingan menggemaskan (insyallah berpahala) yang akan dihadapi.

4. Minimalisir atau hilangkan gangguan
Musuh terbesar saat ini bagi saya pribadi adalah smart phone khususnya sosial media dan video platform. Keduanya sama-sama si penyedot waktu. Tanpa mengecek sosial media satu pekerjaan bisa selesai dalam waktu 30 menit tapi plus sosmed bisa jadi 2 atau bahkan 3 kali lipat lebih lama. Jadi, lets disenggange with this, mute notification, uninstal messanger, dan update sesekali saja.

5. Rayakan keberhasilan kita
Selepas berhasil menyelesaikan pekerjaan atau target pribadi dengan baik dan tepat waktu rayakanlah!. Reward penting untuk mengharagai diri kita dan kerja keras kita. Reward juga penting untuk memperbaharui semangat sehingga ibu-ibu plus plus dapat bekerja maksimal  :).

Reward tidak harus ribet hal sederhana juga bisa menjadi reward menyenangkan. Misalnya menyisihkan waktu membaca buku yang diinginkan, makan diluar, atau produk kecantikan baru 🙂  hahah mum stuff.

Oke mum demikian tips dari saya. Sama-sama belajar menjadi lebih maksimal di semua aspek hidup. Good luck for you and for me!

My independent daughter

She is eight months right now. She often refuses to eat from spoon that i usually give tp her. She sometimes refuses by moving her head from side to side or pouting her tiny mouth, but whenver she discovers new thing she usually puts it into her mouth. She wants to eat by herself. Taking a small object is good for her motorist development. By eating by herself she also learns how to be independent. An important note for mom is always pay attention to what object your kids is playing, do not allow them to put a harmful things into their mouth.

The Idea magnet

I’ve just read a very interesting article which i’m sure i want to share it with my husband and do it myself. I think i badly need to get a new idea in my life and to make my life more productive. Doing daily chores can make your brain like frozen… heheh.

I’ll make it brief cause my cute daughter has woken up. taking a walk helps you to get idea or to see another side of a problem. People who take a walk will have 60 percent higher opportunity to get an idea compared with those who walk on a treadmill facing the wall or just sit down on the desk. This “idea walking”  is also done by many succesful people like obama, bill gates and mark zucherberg.

The idea of this writing comes flip flipboard. As i remember the websource is http://www.entrepreneurship.com
that’s it my writing exercise for today see you at the other writing.